BERBAGI

Jakarta News – Capres Anies Baswedan bersilaturahmi dengan warga kampung Grompol Desa Karangwuni, tempat dirinya dibesarkan di Jogja, Minggu 31 Desember 2023.

Di sela silaturahmi, Cahyo Kuncoro, pria kelahiran tahun 1969 yang juga teman Anies Baswedan sejak SD di lingkungan rumah tempat Anies dibesarkan di Jogja mengungkapkan karakter kepemimpinan atau leadership Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 itu sudah terlihat sejak masa kecilnya.

“Paling berkesan dengan Pak Anies adalah leadership, kepemimpinannya. Anies itu paling konsisten dalam berbicara. Itu sejak masa kecil, sejak kita belum tahu, belum punya wacana pengetahuan soal debat, berargumentasi dan sebagainya,” ucap pria yang akrab dipanggil Pak Kun tersebut, Minggu 31 Desember 2023.

“Saat saling bicara itu, saling mengajukan pendapat, kami berlima ini ternyata bisa saling menghargai perbedaan pendapat,” ujar Pak Kun.

Pak Kun mengungkapkan, dirinya berlima bersama almarhum Iwan, adiknya Anies, kakak Pak Kun Anjang, Fadhilah adiknya Pak Anies dan Anies sendiri kerap bersama dan berinteraksi serta berargumentasi. “Bicaranya skala diskusi kecil sejak SD. Anies dalam diskusi kecil itu banyak memperhatikan. Tapi kemudian Anies menanggapi dengan argumentasi-argumentasi yang baik. Dan berani menegur jika pembicaraan kami menjadi terlalu keras,” ujar Pak Kun.

Sementara Sumedi Abdus Syakur, 61 tahun, tetangga Anies yang mengenal Anies sejak SD mengisahkan, Anies sewaktu masih anak-anak boleh keluar habis ashar di masjid. Karena masjid di Alittihad depannya dulu lapangan bola. Sambil nunggu ustadz pengajian di TPA, Pak Anies main bola dan sepedaan di lapangan.

“Tiap sore. Kalau hari Minggu, Anies tidak di gang Grompol, tapi dibawa kakeknya Abdurrahman Baswedan ke Taman Yuwono. Rutin tiap minggu di Taman Yuwono,” cerita Abdus Syakur.

Adapun rumah masa kecil Anies ada di Karangwuni Baru Gang Grompol Jalan Kaliurang Km 5 Sleman, Jogja. “Saya dulu memelihara kambing, setiap kurban pasti ayahandanya Pak Anies, Pak Rasyid Baswedan membeli hewan kurban dari saya,” lanjut Abdus Syakur.

Dia menceritakan, kelihatan Anies punya pamor dan kewibawaan seorang pemimpin waktu Anies SMA dia didaulat jadi khotib mimbar yang diusung dengan mobil terbuka dalam perayaan tahun baru hijriyah.

Tantenya Pak Anies, ujar dia, mengajar bahasa Inggris gratis untuk anak anak SMA selingkungan rumah di rumah ini, kalau pesertanya banyak baru di masjid.

“Waktu Anies masih SMA, pengurus masjid di Alittihad banyak yang mahasiswa. Pak Anies kalau diajak ngomong dengan mahasiswa itu nyambung, sudah menunjukkan kecerdasan intelektualnya. Waktu halaqoh dikumpulkan diskusi di masjid dengan mahasiswa kedokteran, sospol, kehutanan UGM walaupun usianya masih muda, Pak Anies nyambung bicara dengan para mahasiswa itu. Padahal saya sendiri kurang paham, kemudian mundur,” kisahnya.

Ketika rumah Pak Anies di sebelah dibangun selalu dipakai untuk kegiatan sosial. Setiap Kamis sore sehabis ashar dipakai untuk pengajian sejak dulu sampai sekarang. Kalau puasa habis subuh sampai pk 8.00 ada kegiatan baca Quran selama sebulan penuh di rumah Bapaknya Pak Anies.

“Sebenarnya rumah ini rumah berkah, tidak pernah kosong dari kegiatan sosial. Lalu, di pojok rumah ada pohon mangga semar, kalau berbuah itu pasti masyarakat sekitar mendapat satu buah dari Pak Rasyid Baswedan. Masyarakat tidak ada yang mengambil buah itu waktu muda, karena kalau sudah matang pasti dikasih sama Pak Rasyid,” paparnya.

Rumah ini, ujar Abdus Syakur, rumah penuh berkah karena dulu juga dipakai sebagai tempat pengaduan untuk berbagai masalah masyarakat. Misalnya anak yang tidak bisa bayar uang sekolah mengadunya ke sini. (kba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here